Kirim Ulasan FilmIngin Ulasanmu Terbit di Sini?

Ulasan Film Forest Gump (1994): Narasi Epik Menyoal Disabilitas dan Pendidikannya

Review Film Forest Gump (1994)
Kover Film Forest Gump (1994)

Film Forest Gump berkisah tentang perjalanan hidup seorang dengan IQ di bawah standar. Hal itu ditambah dengan faka bahwa kaki Gump sangatlah lemah sehingga dia perlu besi-besi untuk menopangnya dalam jalan, semacam penjepit pada kaki. Kesedihan yang pertama adalah bahwa dia tidak diterima sekolah formal, hampir saja. Ibunya, yang sangat ingin Forest Gump diterima sebagai anak normal dan mendapat kesempatan yang sama, mau menerima apapun, termasuk jika oknum pihak sekolah harus mendapat erangan berahinya.

Itulah, film ini mengajak kita berempati kepada orang tua yang sedang ingin anaknya diterima oleh masyarakat dengan segala apa adanya. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya mengalami disabilitas, namun tak ada orang tua yang tidak ingin anaknya tidak bahagia, bagaimanapun kondisinya.

Perkawanan dan perundungan (bullying) hadir di sini dalam porsi yang secara nilai seimbang. Bagi seorang Forest Gump yang sejak kecil dirundung, dia memiliki sahabat rekat juga semenjak dia mulai dirundung. Sahabat perempuan itu adalah Jenny (Robin Wright Penn). Saking lekatnya mereka, Gump bahkan menyebut hubungan mereka “was like peas and carrots”.

Informasi Umum Film Forest Gump

Judul: The Forrest Gump

Sutradara: Robert Zemeckis

Produser : Wendy Finerman, Steve Tisch, Steve Starkey

Penulis: Winston Groom (Novel) dan Eric Roth (Adegan layar)

Tahun: 1994

Tanggal Rilis:  23 Juni 1994 (Los Angeles)

Genre: Drama | Romansa

Negara: United States

Bahasa: inggris

Durasi: 142 menit

Tagline: The story of a lifetime.

Bintang: Tom Hanks, Robin Wright, Gary Sinise

Pendapatan: $677.9 million

Bujet: $55 million

Rating: 7.2/10 (Rottentomatoes) 8.8/10 (IMDb)

Rumah Produksi: Paramount Pictures

Informasi lainnya

Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.

Web resmi: https://www.facebook.com/ForrestGump

Kostum: Joanna Johnston

Makeup:

  • Frída Aradóttir                 …            hair creator / hair designer
  • Jay Cannistraci                 …            makeup artist
  • Hazel Catmull                 …            hair stylist
  • Judith A. Cory                 …            hair creator / hair designer
  • Hallie D’Amore                 …            makeup creator / makeup designer
  • William A. Kohout …            hair stylist
  • Susan Schuler-Page …            hair stylist
  • Rick Sharp                 …            makeup artist
  • Daniel C. Striepeke …            makeup creator / makeup designer

Setting: Nancy Haigh

Musik: Alan Silvestri

Sinematografi: Don Burgess

Editing: Arthur Schmidt

 

Distributor:

  • Paramount Pictures (1994) (USA) (theatrical) (as Paramount)
  • Lucernafilm – Alfa (1994) (Czech Republic) (theatrical)
  • United International Pictures (UIP) (1994) (Argentina) (theatrical)
  • United International Pictures (UIP) (1994) (Netherlands) (theatrical)
  • United International Pictures (UIP) (1994) (Sweden) (theatrical)
  • Argentina Video Home (1995) (Argentina) (VHS)
  • CIC Video (1995) (Greece) (VHS)

Film ini diceritakan dengan metode bertutur. Dalam tiap bagian film ditunjukkan bahwa Forest Gump adalah seorang yang sangat suka bercerita kepada orang, bahkan asing yang ditemuinya di halte bus.

Gaya bertutur sang maestro Tom Hanks memang tak perlu diragukan lagi. Perannya sebagai orang bodoh dan memiliki akses khas,  pun seperti biasa, layak mendapat dua jempol. Sungguh jauh lebih baik ketimbang peran Sah Rukh Khan di Film My Name is Khan. Kisah Forest Gump seakan lurus seolah tanpa “twist”, namun meledak-ledak di banyak bagian. Ide untuk menerapkan Tom Hanks menjadi narator sekaligus pemeran bintang utama adalah murni hal yang tepat.

 

Daftar Pemeran Film Forest Gump

Tom Hanks                                          …            Forrest Gump

Rebecca Williams                             …            Nurse at Park Bench

Sally Field                                            …            Mrs. Gump

Michael Conner Humphreys       …            Young Forrest

Harold G. Herthum                          …            Doctor (as Harold Herthum)

George Kelly                                      …            Barber

Bob Penny                                          …            Crony

John Randall                                       …            Crony

Sam Anderson                                  …            Principal

Margo Moorer                                  …            Louise

Ione M. Telech                                  …            Elderly Woman

Christine Seabrook                          …            Elderly Woman’s Daughter

John Worsham                                  …            Southern Gentleman / Landowner

Peter Dobson                                    …            Young Elvis Presley

 

 

Dialog yang dirancang juga sangat kuat di sana-sini. Seolah otak kita dipecundangi oleh sosok yang disebut-sebut sebagai idiot. Misalnya begini, apa yang kamu rasakan jika mendengar seorang dengan IQ di bawah rata-rata dan tanpa pura-pura, seolah tanpa pretensi apapun, dan berkata demikian:

I am not smart man, but I know what love is.

Atau dengan terjemahan bebas berbunyi:

“Aku bukan orang yang pintar, tapi aku tahu apa itu cinta.”

Tentu kalimat-kalimat seperti itu banyak tersebar di dalam film. Rasa-rasanya, jika kita selesai menonton film ini, seperti membayangkan ironi bertebaran laiknya kotoran ayam di dekat kandangnya, saking banyaknya.

Dalam film yang bagus sekalipun, terkadang ada detail-detail silogisme, kadang yang sifatnya teknis atau semiteknis, muncul. Ini juga terjadi di film Forest Gump. Dalam dua adegan “naik bus sekolah”, digambarkan kedua adegan berselisih waktu satu sama lain berpuluh tahun, dan sopirnya sama. Yang mengganjal adalah minimnya kualitas make up yang memadai. Seharusnya, ada selisih umur yang kentara, meskipun tokohnya sama.

Lalu, kemampuan manusia yang bisa berlari bertahun-tahun. Apa mungkin? Namun biarlah. Toh kita bisa menerima “One Punch Man” yang selalu mengalahkan musuhnya hanya dengan satu pukulan. Meski keduanya bukanlah hal yang bisa dibandingkan mengingat yang kedua adalah film animasi.

Simpulan Ulasan Film Forest Gump

Sebelum menyimpulkan, alangkah lebih baik jika kita melihat taburan prestasi film Forest Gump di Oscar dan Golden Award:

Academy Awards, USA 1995

Won
Oscar
Best Picture
Wendy Finerman
Steve Starkey
Steve Tisch
Best Actor in a Leading Role
Tom Hanks
Best Director
Robert Zemeckis
Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published
Eric Roth
Best Film Editing
Arthur Schmidt
Best Effects, Visual Effects
Ken Ralston
George Murphy
Stephen Rosenbaum
Allen Hall
Nominated
Oscar
Best Actor in a Supporting Role
Gary Sinise
Best Cinematography
Don Burgess
Best Art Direction-Set Decoration
Rick Carter
Nancy Haigh
Best Sound
Randy Thom
Tom Johnson
Dennis S. Sands
William B. Kaplan
Best Effects, Sound Effects Editing
Gloria S. Borders
Randy Thom
Best Makeup
Daniel C. Striepeke
Hallie D’Amore
Judith A. Cory
Best Music, Original Score
Alan Silvestri

 

Golden Globes, USA 1995

Won
Golden Globe
Best Director – Motion Picture
Robert Zemeckis
Best Performance by an Actor in a Motion Picture – Drama
Tom Hanks
Best Motion Picture – Drama
Nominated
Golden Globe
Best Performance by an Actress in a Supporting Role in a Motion Picture
Robin Wright
Best Performance by an Actor in a Supporting Role in a Motion Picture
Gary Sinise
Best Screenplay – Motion Picture
Eric Roth
Best Original Score – Motion Picture
Alan Silvestri

 

Kisah yang bercerita tentang seorang yang mengidap keterbelakangan mental selalu bisa menyentuh. Mengapa? Kesederhanaan metode berpikir. Begitulah, Forest Gump bisa bercerita hal yang sangat berat dengan menyenangkan dan seolah tanpa pretensi. Banyak kekelaman sejarah maupun ideologi yang dibahas dengan sanga santai. Film bisa menyinggung soal rasisme, soal konspirasi kematian presiden, hingga soal-soal batas seksualitas, dan tentu saja tentang perang. Namun, penulis artikel ini berpendapat sesuai judul, film cukup fokus membahas soal pendidikan dan cara kita menyikapi manusia dengan perbedaan.

Entah bagaimana dia bisa memasukkan Elvis Presley, para Presiden Amerika Serikat, juga John Lennon ke dalam kisahnya. Ini yang penulis belum pahami dengan benar. Ini adalah kisah yang dianggap fakta film, atau fatamorgana si Forest Gump. Namun, jika melihat akhir film, semuanya terbukti benar. Tapi tak seutuhnya benar. Jika Forest Gump bisa berkali-kali masuk TV nasional, bukannya yang diajak bicara di halte paling tidak kenal? Namun itu hanya mengganggu pikiran penulis, tidak terlalu mengganggu cerita.